I Finally Found Someone (Part I)
1
Aku berjalan sendirian di tepi Grand Canal. Setengah melamun terpesona oleh keindahan kota air ini. usim panas adalah banjirnya para turisnya dan pelancong. Dengan nikmat kujilati es krim vanilaku lambat-lambat sambil mengingat-ingat kejadian di taman kota ketika Andrea membelikanku es krim. Dengan malas, aku duduk di bangku kayu bercat hijau dan kembali menjilati es krimku sambil memandang berkeliling pada keramaian suasana sore yang cerah itu. Orang-orang Cina yang saling memotret. Anak kecil dengan balon berwarna-warninya. Seorang wanita muda yang sedang hamil tua dan suaminya. Seorang cowok tinggi yang sangat tampan.
Cowok itu keren. Aku tidak perlu mengatakannya berkali-kali, karena aku sudah mengakuinya sejak pertama kali aku melihatnya. Dia seolah-olah memancarkan energi dan cahaya seperti mentari pagi. Rambut pirangnya yang kecoklatan sebahu itu diikat menjadi ekor kuda dengan beberapa helai yang lepas membingkai wajahnya. Wajah itu terlihat muram. Alisnya melengkung di atas sepasang ata cokelat yang menyorot lembut. Dahinya halus dan cerdas dengan garis-garis wajah seorang aristokrat. Cowok itu mengenakan celana jeans berwarna putih dengan seuntai kalung menghiasi lehernya. Dia sosok yang memikat sekaligus terlihat sedih pada saat yang bersamaan. Andrea Braschi!
Andrea berjalan sigap di antara kerumunan orang-orang, lalu melompat ke atas gondala besar di tepi dermaga. Cepat-cepat aku bangkit berdiri, membuang sisa es krimku ke tempat sampah, lalu ikut naik ke atas gondala penuh turis itu. Andrea berdiri di ujung gondala. Melamun dengan wajah tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Gondala itu mulai bergerak, melaju ke tengah lalu lintas Grand Canal. Dengan cepat gondala itu melewati jembatan-jembatan, palazzi-palazzi dan berbagai patung kuno. Wajah Andrea menegang dan dahinya berkerut ketika gondala itu melewati jembatan kecil yang antik. Ponte di Paglia. Ponte dei Sospiri. Jembatan Desah.
"Ingin menyelam mencari gelang perak yang hilang. Signore Braschi?" tanyaku lembut pada Andrea.
Andrea menoleh padaku dengan cepat. Wajahnya yang terkejut terlihat indah dibiasi matahari sore. Tanpa sadar, aku tersenyum dan tiba-tiba menyadari betapa rindunya aku pada Andrea. Pada caranya membuatku tertawa. Pada mata cokelatnya yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Pada wajahnya yang ramah. Hanya dengan memandanginya, aku mengerti bahwa aku teramat sangat erindukan Andrea.
"Kamu?"
"Halo, Andrea."
Aku menangkap kepahitan pada suara Andrea dan mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah Andrea juga merindukan aku seperti aku merindukannya.
"Mencari kamu," kataku dengan suara serak dan tiba-tiba aku mendapati diriku gemetaran.
"Begitu?" Andrea tersenyum sopan.
"Aku berusaha menghubungimu," kataku pelan.
"Oh..." mulut Andrea membulat, "Dari ana kamu tahu aku ada di sini?"
Ketenangan dan sikap diam Andrea membuatku lemah, "Apa aku nggak boleh ketemu kamu lagi?"
Andrea mendesah, "Tentu saja, masih banyak persoalan mengganjal yang harus diselesaikan."
"Tuhanku! Andrea..." kataku putus asa, "Kamu benar-benar membenciku, ya?"
"Kenapa harus membenci? Aku lelah terus bertarung. Apa kamu nggak lelah, sayang?"
Suara Andrea yang tenang terasa seperti seperti cemoohan membuat aku semakin merasa bersalah, "Aku minta maaf, Andrea."
Andrea menggeleng, "Kamu membenci permintaan maaf."
Aku merasa tidak suka Andrea mengatakan kebenaran yang terang-terangan menyudutkanku itu. Begitu pula dengan wajah tenag tanpa ekspresi dan sorot matanya yang tajam.
"Dimana Daniel?"tanya Andrea dengan senyum polos.
"Di Jakarta."
"kenapa meninggalkannya di sana?"tanya Andrea,"apa ingin memastikan terlebih dulu kita telah menyelesaikan urusan-urusan kita hingga tuntas?"
"Apanya yang tuntas,Andrea?"tanya ku sedih.
"Hubungan kita,"jawabnya singkat.
"Maksudnya selesai?"aku menatap Andrea dengan hati terluka,"aku bahkan baru ingin memulai dari awal hubungan ini.Tapi kamu malah nggak menghargai sama sekali usahaku,Andrea.Apa kamu pikir aku berniat meninggalkanmu kemudian berpaling.pada siapa aku harus berpaling,Andrea?Nggak ada siapa-siapa kecuali kamu."
Andrea tersenyum kecil,"jadi kamu dan Daniel nggak ada hubungan apa-apa?"
Aku mengangkat bahu,"Terserah kamu mau percaya atau nggak.Tapi Daniel dan aku hanya berteman."
Andrea menyeringai malas,"Itu sama sekali nggak mengubah apa pun kan,sayang?selamanya kamu nggak pernah akan mencintai aku,kan?"
Aku mengatupkan kedua belah bibirku dengan putus asa,bercampur ketakutan dan amarah,"kenapa kamu terlalu suka membuat kesimpulan sendiri tanpa pernah bertanya terlebih dahulu.Kamu benar-benar membenciku,kan?kamu bahkan nggak sudi satu kali pun menyabut namaku dari tadi."
"Benarkah?" mata cokelat Andrea menatapku nanar, "Aku nggak pernah bisa membenci kamu walaupun aku berusaha mati-matian untuk itu."
"Begitu ya?' kataku perlahan, "Jadi beginilah akhirnya.kamu ngaak menginginkan hubungan kita lagi."
Mata Andrea menyipit ketika memandangiku, "Tolong jelaskan sesuatu, Aish?" erangnya.
(BERSAMBUNG)
COPAS dari Novel "Finally, I Found Someone"
Cowok itu keren. Aku tidak perlu mengatakannya berkali-kali, karena aku sudah mengakuinya sejak pertama kali aku melihatnya. Dia seolah-olah memancarkan energi dan cahaya seperti mentari pagi. Rambut pirangnya yang kecoklatan sebahu itu diikat menjadi ekor kuda dengan beberapa helai yang lepas membingkai wajahnya. Wajah itu terlihat muram. Alisnya melengkung di atas sepasang ata cokelat yang menyorot lembut. Dahinya halus dan cerdas dengan garis-garis wajah seorang aristokrat. Cowok itu mengenakan celana jeans berwarna putih dengan seuntai kalung menghiasi lehernya. Dia sosok yang memikat sekaligus terlihat sedih pada saat yang bersamaan. Andrea Braschi!
Andrea berjalan sigap di antara kerumunan orang-orang, lalu melompat ke atas gondala besar di tepi dermaga. Cepat-cepat aku bangkit berdiri, membuang sisa es krimku ke tempat sampah, lalu ikut naik ke atas gondala penuh turis itu. Andrea berdiri di ujung gondala. Melamun dengan wajah tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Gondala itu mulai bergerak, melaju ke tengah lalu lintas Grand Canal. Dengan cepat gondala itu melewati jembatan-jembatan, palazzi-palazzi dan berbagai patung kuno. Wajah Andrea menegang dan dahinya berkerut ketika gondala itu melewati jembatan kecil yang antik. Ponte di Paglia. Ponte dei Sospiri. Jembatan Desah.
"Ingin menyelam mencari gelang perak yang hilang. Signore Braschi?" tanyaku lembut pada Andrea.
Andrea menoleh padaku dengan cepat. Wajahnya yang terkejut terlihat indah dibiasi matahari sore. Tanpa sadar, aku tersenyum dan tiba-tiba menyadari betapa rindunya aku pada Andrea. Pada caranya membuatku tertawa. Pada mata cokelatnya yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Pada wajahnya yang ramah. Hanya dengan memandanginya, aku mengerti bahwa aku teramat sangat erindukan Andrea.
"Kamu?"
"Halo, Andrea."
Aku menangkap kepahitan pada suara Andrea dan mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah Andrea juga merindukan aku seperti aku merindukannya.
"Mencari kamu," kataku dengan suara serak dan tiba-tiba aku mendapati diriku gemetaran.
"Begitu?" Andrea tersenyum sopan.
"Aku berusaha menghubungimu," kataku pelan.
"Oh..." mulut Andrea membulat, "Dari ana kamu tahu aku ada di sini?"
Ketenangan dan sikap diam Andrea membuatku lemah, "Apa aku nggak boleh ketemu kamu lagi?"
Andrea mendesah, "Tentu saja, masih banyak persoalan mengganjal yang harus diselesaikan."
"Tuhanku! Andrea..." kataku putus asa, "Kamu benar-benar membenciku, ya?"
"Kenapa harus membenci? Aku lelah terus bertarung. Apa kamu nggak lelah, sayang?"
Suara Andrea yang tenang terasa seperti seperti cemoohan membuat aku semakin merasa bersalah, "Aku minta maaf, Andrea."
Andrea menggeleng, "Kamu membenci permintaan maaf."
Aku merasa tidak suka Andrea mengatakan kebenaran yang terang-terangan menyudutkanku itu. Begitu pula dengan wajah tenag tanpa ekspresi dan sorot matanya yang tajam.
"Dimana Daniel?"tanya Andrea dengan senyum polos.
"Di Jakarta."
"kenapa meninggalkannya di sana?"tanya Andrea,"apa ingin memastikan terlebih dulu kita telah menyelesaikan urusan-urusan kita hingga tuntas?"
"Apanya yang tuntas,Andrea?"tanya ku sedih.
"Hubungan kita,"jawabnya singkat.
"Maksudnya selesai?"aku menatap Andrea dengan hati terluka,"aku bahkan baru ingin memulai dari awal hubungan ini.Tapi kamu malah nggak menghargai sama sekali usahaku,Andrea.Apa kamu pikir aku berniat meninggalkanmu kemudian berpaling.pada siapa aku harus berpaling,Andrea?Nggak ada siapa-siapa kecuali kamu."
Andrea tersenyum kecil,"jadi kamu dan Daniel nggak ada hubungan apa-apa?"
Aku mengangkat bahu,"Terserah kamu mau percaya atau nggak.Tapi Daniel dan aku hanya berteman."
Andrea menyeringai malas,"Itu sama sekali nggak mengubah apa pun kan,sayang?selamanya kamu nggak pernah akan mencintai aku,kan?"
Aku mengatupkan kedua belah bibirku dengan putus asa,bercampur ketakutan dan amarah,"kenapa kamu terlalu suka membuat kesimpulan sendiri tanpa pernah bertanya terlebih dahulu.Kamu benar-benar membenciku,kan?kamu bahkan nggak sudi satu kali pun menyabut namaku dari tadi."
"Benarkah?" mata cokelat Andrea menatapku nanar, "Aku nggak pernah bisa membenci kamu walaupun aku berusaha mati-matian untuk itu."
"Begitu ya?' kataku perlahan, "Jadi beginilah akhirnya.kamu ngaak menginginkan hubungan kita lagi."
Mata Andrea menyipit ketika memandangiku, "Tolong jelaskan sesuatu, Aish?" erangnya.
(BERSAMBUNG)
COPAS dari Novel "Finally, I Found Someone"

hiksss... agak ngena gituu.. kisahnya.. bikin sasaakkk.. X_X
BalasHapusditunggu lanjutannya kk Ndaa ^_^